Mengenai pertanyaan ini, perkenalan pertama dengan Allah Subhana wata’ala, tempat, cara menyaksikan-Nya dan saksinya adalah sebagai berikut:
dan (ingatlah), ketika Rabmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Rab kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang¬orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)". (Q.S al-A'raaf(7): 172)
1. Di mana dan Bagaimana Mengenal/ Menyaksi¬kan Allah
Posisi manusia dalam sulbi adalah sebuah proses akan diciptakannya manusia baru menjelang perpaduan antata ruh dan jasad dalam rahim ibu. Pada saat itu Allah mengambil syahadat (persaksian/sumpah) jiwanya (waasyhahadakhum a’laanfusahum) hal mana menunjukkan bahwa yang diminta syahadatnya adalah jiwa, sebab anfus dapat berarti jiwa atau ruh.
Tempat pengambilan syahadat jiwa adalah di alam jiwa itu sendiri, alam jiwa itu adalah bentuk alam ruh yang serba ghaib, tempat alam jiwa lain dengan alam rahim ibu.
Cara jiwa bersyahadat kepada Allah tentunya menurut tabiat jiwa itu sendiri, karena itu cara jiwa menyaksikan Allah pun secara kejiwaan.
Gambarannya dapat kita ambil contoh dari kalimat: yasyhadu manafi’u lahum "Agar mereka dapat menyaksikan
manfaat-manfaat."
Menyaksikan manfaat itu dapat dirasakan oleh jiwa, panca indera hanya menguatkan persaksian tersebut. Pengertian syahadat di sini adalah persaksian yang disaksikan oleh jiwa manusia. Begitu pula dalam hal menyaksikan Allah, jiwa merasakan benar adanya Allah; sebagai Rab dan panca indera membenarkan persaksian tersebut melalui hasil ciptaan Allah yang tampak. Persaksian jiwa tidak tergantung bentuk dan rupa obyek yang disaksikan, yang tergantung dengan obyek bentuk rupa itu hanya panca indera saja. Maka dalam hal jiwa menyaksikan Allah yang Maha Ghaib adalah jelas, sebagaimana jelasnya mata kepala menyaksikan bulan purnama.
2. Siapa yang Menjadi Saksinya?
Dalam surat al-A'raf(7): 172 di atas seluruh dhamir menunjukkan kata jama' hum: mereka, Kum kamu, naa kami, dan kalimat: durriyyat wa asyhaduhum a’la anfusihim alastu birobbikum qolu bala syahidna
Semuanya dikembalikan pada arti jiwa. Berarti syahadat jiwa sama-sama disaksikan oleh jiwa orang lain, dan itulah saksinya.
3. Kesimpulan
Kesimpulan semua jawaban di atas adalah, bahwa setiap orang telah mengenal Allah sebelum dilahirkan ke dunia, yakni tempatnya di alam jiwa (ruh), menyaksikan-Nya (Allah) secara kejiwaan dan syahadatnya disaksikan oleh jiwa jiwa(ruh) yang lain.
C. MENGAPA HANYA ALLAH SAJA SEBAGAI ILAH?
Mengenai jawaban tentang orang yang hanya berrsyahadat tauhid dapat kita ambil kesimpulan dalam surat ar-Rum(30): 30 sebagai salah satu jawaban tepat : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (ltulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q,S. ar-Rum(30): 30)
Kalimat (wajhaka) mengandung arti wajah, muka,
pandangan. Perintah menghadapkan wajah menunjukkan telah sempurnanya jiwa dan raga orang dewasa di alam dunia, sebab perintah untuk ber-dien itu tidak ditujukan kepada orang yang cacat jiwa dan raganya, atau bukan ditujukan kepada anak-anak yang belum akil baligh dan orang yang sudah meninggal dunia.
Syahadat manusia kepada Allah sebelum dilahirkan ke dunia adalah telah menjadi bentuk fitrah setiap orang, karena Itu setiap orang yang telah lahir ke dunia terikat dengan fitrahnya itu sehingga setiap insan jika tidak menjadikan Allah sebagai Rab-nya tetap saja dia jadikan siapa pun sebagai Rab.
Maka Allah menurunkan pandangan Rububiyahnya sesuai dengan fitrah Allah pada setiap insan, hanya saja kebanyakan manusia sudah tidak tahu lagi terhadap syahadat yang pernah diikrarkannya sebelum dilahirkan ke dunia.
Orang yang menerima Dienullah itu tentulah disebabkan adanya orang yang mendakwahinya dan adanya faktor keyakinan terhadap seruan tersebut. Begitu pula sekarang, bagaimana pun kita semua tidak akan dapat ber-dien secara lurus/benar dengan sendirinya tanpa adanya para Waliyullah yang telah menyampaikan Risalah Tauhid hingga sampai kepada kita. Orang yang menerima Dienullah di dalamnya dijelaskan mengenai ajaran Tauhid, misalnya:
"Maka ketahuilah, bahwa tiada ilah kecuali Allah." (Q.S. Muhammad(47): 19).
Setelah mengetahui Tauhidullah tersebut barulah orang yang yakin segera bersyahadat untuk mengaku dan bersumpah atau bersaksi bahwa Allah saja sebagai ilah dan menolak selain-Nya.
Jika jawaban ini kita simpulkan dapat kita susun ngan kalimat:
"Karena saya meyakini kebenaran Ad-Dien yang sesuai dengan fitrah manusia ketika dakwah tersebut sampai kepada saya setelah dilahirkan ke dunia atau setelah akil baligh; yang di dalamnya menerangkan bahwa Tiada ilah kecuali Allah. Maka saya tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa tiada ilah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah."
Demikianlah keterangan singkat mengenai Allah,yang wajib dipelajari bagi setiap muslim dan muslimat; sebagai keyakinan paling utama dan rukun iman yang pertama. Karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap ke-esaan Allah maka seperti Bilal bin Rabah sanggup menerima siksaan dari majikannya,dengan nafas terputus-putus beliau mengucapkan, Ahad….Ahad…Ahad…
Tampilkan postingan dengan label aqidah islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah islamiyah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Oktober 2010
. SEJAK KAPAN MENGENAI ALLAH?
Rabu, 29 September 2010
SEJAK KAPAN MENGENAI ALLAH?
Mengenai pertanyaan ini, perkenalan pertama dengan Allah Subhana wata’ala, tempat, cara menyaksikan-Nya dan saksinya adalah sebagai berikut:
dan (ingatlah), ketika Rabmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Rab kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang¬orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)". (Q.S al-A'raaf(7): 172)
1. Di mana dan Bagaimana Mengenal/ Menyaksi¬kan Allah
Posisi manusia dalam sulbi adalah sebuah proses akan diciptakannya manusia baru menjelang perpaduan antata ruh dan jasad dalam rahim ibu. Pada saat itu Allah mengambil syahadat (persaksian/sumpah) jiwanya (waasyhahadakhum a’laanfusahum) hal mana menunjukkan bahwa yang diminta syahadatnya adalah jiwa, sebab anfus dapat berarti jiwa atau ruh.
Tempat pengambilan syahadat jiwa adalah di alam jiwa itu sendiri, alam jiwa itu adalah bentuk alam ruh yang serba ghaib, tempat alam jiwa lain dengan alam rahim ibu.
Cara jiwa bersyahadat kepada Allah tentunya menurut tabiat jiwa itu sendiri, karena itu cara jiwa menyaksikan Allah pun secara kejiwaan.
Gambarannya dapat kita ambil contoh dari kalimat: yasyhadu manafi’u lahum "Agar mereka dapat menyaksikan
manfaat-manfaat."
Menyaksikan manfaat itu dapat dirasakan oleh jiwa, panca indera hanya menguatkan persaksian tersebut. Pengertian syahadat di sini adalah persaksian yang disaksikan oleh jiwa manusia. Begitu pula dalam hal menyaksikan Allah, jiwa merasakan benar adanya Allah; sebagai Rab dan panca indera membenarkan persaksian tersebut melalui hasil ciptaan Allah yang tampak. Persaksian jiwa tidak tergantung bentuk dan rupa obyek yang disaksikan, yang tergantung dengan obyek bentuk rupa itu hanya panca indera saja. Maka dalam hal jiwa menyaksikan Allah yang Maha Ghaib adalah jelas, sebagaimana jelasnya mata kepala menyaksikan bulan purnama.
2. Siapa yang Menjadi Saksinya?
Dalam surat al-A'raf(7): 172 di atas seluruh dhamir menunjukkan kata jama' hum: mereka, Kum kamu, naa kami, dan kalimat: durriyyat wa asyhaduhum a’la anfusihim alastu birobbikum qolu bala syahidna
Semuanya dikembalikan pada arti jiwa. Berarti syahadat jiwa sama-sama disaksikan oleh jiwa orang lain, dan itulah saksinya.
3. Kesimpulan
Kesimpulan semua jawaban di atas adalah, bahwa setiap orang telah mengenal Allah sebelum dilahirkan ke dunia, yakni tempatnya di alam jiwa (ruh), menyaksikan-Nya (Allah) secara kejiwaan dan syahadatnya disaksikan oleh jiwa jiwa(ruh) yang lain.
C. MENGAPA HANYA ALLAH SAJA SEBAGAI ILAH?
Mengenai jawaban tentang orang yang hanya berrsyahadat tauhid dapat kita ambil kesimpulan dalam surat ar-Rum(30): 30 sebagai salah satu jawaban tepat : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (ltulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q,S. ar-Rum(30): 30)
Kalimat (wajhaka) mengandung arti wajah, muka,
pandangan. Perintah menghadapkan wajah menunjukkan telah sempurnanya jiwa dan raga orang dewasa di alam dunia, sebab perintah untuk ber-dien itu tidak ditujukan kepada orang yang cacat jiwa dan raganya, atau bukan ditujukan kepada anak-anak yang belum akil baligh dan orang yang sudah meninggal dunia.
Syahadat manusia kepada Allah sebelum dilahirkan ke dunia adalah telah menjadi bentuk fitrah setiap orang, karena Itu setiap orang yang telah lahir ke dunia terikat dengan fitrahnya itu sehingga setiap insan jika tidak menjadikan Allah sebagai Rab-nya tetap saja dia jadikan siapa pun sebagai Rab.
Maka Allah menurunkan pandangan Rububiyahnya sesuai dengan fitrah Allah pada setiap insan, hanya saja kebanyakan manusia sudah tidak tahu lagi terhadap syahadat yang pernah diikrarkannya sebelum dilahirkan ke dunia.
Orang yang menerima Dienullah itu tentulah disebabkan adanya orang yang mendakwahinya dan adanya faktor keyakinan terhadap seruan tersebut. Begitu pula sekarang, bagaimana pun kita semua tidak akan dapat ber-dien secara lurus/benar dengan sendirinya tanpa adanya para Waliyullah yang telah menyampaikan Risalah Tauhid hingga sampai kepada kita. Orang yang menerima Dienullah di dalamnya dijelaskan mengenai ajaran Tauhid, misalnya:
"Maka ketahuilah, bahwa tiada ilah kecuali Allah." (Q.S. Muhammad(47): 19).
Setelah mengetahui Tauhidullah tersebut barulah orang yang yakin segera bersyahadat untuk mengaku dan bersumpah atau bersaksi bahwa Allah saja sebagai ilah dan menolak selain-Nya.
Jika jawaban ini kita simpulkan dapat kita susun ngan kalimat:
"Karena saya meyakini kebenaran Ad-Dien yang sesuai dengan fitrah manusia ketika dakwah tersebut sampai kepada saya setelah dilahirkan ke dunia atau setelah akil baligh; yang di dalamnya menerangkan bahwa Tiada ilah kecuali Allah. Maka saya tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa tiada ilah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah."
Demikianlah keterangan singkat mengenai Allah,yang wajib dipelajari bagi setiap muslim dan muslimat; sebagai keyakinan paling utama dan rukun iman yang pertama. Karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap ke-esaan Allah maka seperti Bilal bin Rabah sanggup menerima siksaan dari majikannya,dengan nafas terputus-putus beliau mengucapkan, Ahad….Ahad…Ahad…
dan (ingatlah), ketika Rabmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Rab kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang¬orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)". (Q.S al-A'raaf(7): 172)
1. Di mana dan Bagaimana Mengenal/ Menyaksi¬kan Allah
Posisi manusia dalam sulbi adalah sebuah proses akan diciptakannya manusia baru menjelang perpaduan antata ruh dan jasad dalam rahim ibu. Pada saat itu Allah mengambil syahadat (persaksian/sumpah) jiwanya (waasyhahadakhum a’laanfusahum) hal mana menunjukkan bahwa yang diminta syahadatnya adalah jiwa, sebab anfus dapat berarti jiwa atau ruh.
Tempat pengambilan syahadat jiwa adalah di alam jiwa itu sendiri, alam jiwa itu adalah bentuk alam ruh yang serba ghaib, tempat alam jiwa lain dengan alam rahim ibu.
Cara jiwa bersyahadat kepada Allah tentunya menurut tabiat jiwa itu sendiri, karena itu cara jiwa menyaksikan Allah pun secara kejiwaan.
Gambarannya dapat kita ambil contoh dari kalimat: yasyhadu manafi’u lahum "Agar mereka dapat menyaksikan
manfaat-manfaat."
Menyaksikan manfaat itu dapat dirasakan oleh jiwa, panca indera hanya menguatkan persaksian tersebut. Pengertian syahadat di sini adalah persaksian yang disaksikan oleh jiwa manusia. Begitu pula dalam hal menyaksikan Allah, jiwa merasakan benar adanya Allah; sebagai Rab dan panca indera membenarkan persaksian tersebut melalui hasil ciptaan Allah yang tampak. Persaksian jiwa tidak tergantung bentuk dan rupa obyek yang disaksikan, yang tergantung dengan obyek bentuk rupa itu hanya panca indera saja. Maka dalam hal jiwa menyaksikan Allah yang Maha Ghaib adalah jelas, sebagaimana jelasnya mata kepala menyaksikan bulan purnama.
2. Siapa yang Menjadi Saksinya?
Dalam surat al-A'raf(7): 172 di atas seluruh dhamir menunjukkan kata jama' hum: mereka, Kum kamu, naa kami, dan kalimat: durriyyat wa asyhaduhum a’la anfusihim alastu birobbikum qolu bala syahidna
Semuanya dikembalikan pada arti jiwa. Berarti syahadat jiwa sama-sama disaksikan oleh jiwa orang lain, dan itulah saksinya.
3. Kesimpulan
Kesimpulan semua jawaban di atas adalah, bahwa setiap orang telah mengenal Allah sebelum dilahirkan ke dunia, yakni tempatnya di alam jiwa (ruh), menyaksikan-Nya (Allah) secara kejiwaan dan syahadatnya disaksikan oleh jiwa jiwa(ruh) yang lain.
C. MENGAPA HANYA ALLAH SAJA SEBAGAI ILAH?
Mengenai jawaban tentang orang yang hanya berrsyahadat tauhid dapat kita ambil kesimpulan dalam surat ar-Rum(30): 30 sebagai salah satu jawaban tepat : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (ltulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q,S. ar-Rum(30): 30)
Kalimat (wajhaka) mengandung arti wajah, muka,
pandangan. Perintah menghadapkan wajah menunjukkan telah sempurnanya jiwa dan raga orang dewasa di alam dunia, sebab perintah untuk ber-dien itu tidak ditujukan kepada orang yang cacat jiwa dan raganya, atau bukan ditujukan kepada anak-anak yang belum akil baligh dan orang yang sudah meninggal dunia.
Syahadat manusia kepada Allah sebelum dilahirkan ke dunia adalah telah menjadi bentuk fitrah setiap orang, karena Itu setiap orang yang telah lahir ke dunia terikat dengan fitrahnya itu sehingga setiap insan jika tidak menjadikan Allah sebagai Rab-nya tetap saja dia jadikan siapa pun sebagai Rab.
Maka Allah menurunkan pandangan Rububiyahnya sesuai dengan fitrah Allah pada setiap insan, hanya saja kebanyakan manusia sudah tidak tahu lagi terhadap syahadat yang pernah diikrarkannya sebelum dilahirkan ke dunia.
Orang yang menerima Dienullah itu tentulah disebabkan adanya orang yang mendakwahinya dan adanya faktor keyakinan terhadap seruan tersebut. Begitu pula sekarang, bagaimana pun kita semua tidak akan dapat ber-dien secara lurus/benar dengan sendirinya tanpa adanya para Waliyullah yang telah menyampaikan Risalah Tauhid hingga sampai kepada kita. Orang yang menerima Dienullah di dalamnya dijelaskan mengenai ajaran Tauhid, misalnya:
"Maka ketahuilah, bahwa tiada ilah kecuali Allah." (Q.S. Muhammad(47): 19).
Setelah mengetahui Tauhidullah tersebut barulah orang yang yakin segera bersyahadat untuk mengaku dan bersumpah atau bersaksi bahwa Allah saja sebagai ilah dan menolak selain-Nya.
Jika jawaban ini kita simpulkan dapat kita susun ngan kalimat:
"Karena saya meyakini kebenaran Ad-Dien yang sesuai dengan fitrah manusia ketika dakwah tersebut sampai kepada saya setelah dilahirkan ke dunia atau setelah akil baligh; yang di dalamnya menerangkan bahwa Tiada ilah kecuali Allah. Maka saya tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa tiada ilah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah."
Demikianlah keterangan singkat mengenai Allah,yang wajib dipelajari bagi setiap muslim dan muslimat; sebagai keyakinan paling utama dan rukun iman yang pertama. Karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap ke-esaan Allah maka seperti Bilal bin Rabah sanggup menerima siksaan dari majikannya,dengan nafas terputus-putus beliau mengucapkan, Ahad….Ahad…Ahad…
Jumat, 24 September 2010
Fatwa Imam Syafi’i tentang Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan
Oleh : Ustadz Rasul Dahri
Majelis kenduri arwah lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati. Kebiasaannya diadakan sama ada pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan lebih dari itu bagi mereka yang fanatik kepada kepercayaan ini atau kepada si Mati. Malangnya mereka yang mengerjakan perbuatan ini tidak menyedari bahawa terdapat banyak fatwa-fatwa dari Imam Syafi'ie rahimahullah dan para ulama besar dari kalangan yang bermazhab Syafi'ie telah mengharamkan dan membid’ahkan perbuatan atau amalan yang menjadi tajuk perbincangan dalam tulisan ini.
Di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz 2. hlm. 146, tercatat pengharaman Imam Syafie rahimahullah tentang perkara yang disebutkan di atas sebagaimana ketegasan beliau dalam fatwanya:
وَیَكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِى الْیَوْمِ اْلاَوَّلِ وَالثَّالِث وَبَعْدَ اْلاُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ اِلَى الْقُبُوْرِ
“Dan dilarang (ditegah/makruh) menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.
Imam Syafi'ie dan jumhur ulama-ulama besar ( ائم ة العلم اء الش افع یة ) yang berpegang
kepada mazhab Syafi'ie, dengan berlandaskan kepada hadis-hadis sahih, mereka memfatwakan bahawa yang sewajarnya menyediakan makanan untuk keluarga si Mati adalah jiran, kerabat si Mati atau orang yang datang menziarahi mayat, bukan keluarga (ahli si Mati) sebagaimana fatwa Imam Syafii'e:
Imam Syafi'ie dan jumhur ulama-ulama besar ( ائم ة العلم اء الش افع یة ) yang berpegang
kepada mazhab Syafi'ie, dengan berlandaskan kepada hadis-hadis sahih, mereka memfatwakan bahawa yang sewajarnya menyediakan makanan untuk keluarga si Mati adalah jiran, kerabat si Mati atau orang yang datang menziarahi mayat, bukan keluarga (ahli si Mati) sebagaimana fatwa Imam Syafii'e:
وَاُحِبُّ لِجِیْرَانِ الْمَیِّتِ اَوْذِيْ قَرَابَتِھِ اَنْ یَعْمَلُوْا لاَھْلِ الْمَیِّتِ فِىْ یَوْمِ یَمُوْتُ وَلَیْلَتِھِ طَعَامًا مَا
یُشْبِعُھُمْ وَاِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ.
“Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”.
Fatwa Imam Syafie di atas ini adalah berdasarkan hadis sahih:
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ جَعْفَرَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ حِیْنَ قُتِلَ قَ الَ النَّبِ ي صَ لَّى اللهُ عَلَیْ ھِ وَسَ لَّمَ :
اِصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرِ طَعَامًا فَقَدْ اَتَاھُمْ مَایُشْغِلُھُمْ . (حسنھ الترمزى وصححھ الحاكم)
“Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”. [1]
Menurut fatwa Imam Syafie, adalah haram mengadakan kenduri arwah dengan menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si
Mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram. Telah dinyatakan
juga di dalam kitab ( اعانة الطالبین ) jld. 2. hlm. 146:
وَقَالَ اَیْضًأ : وَیَكْ رَهُ الضِّ یَافَةُ مِ نَ الطَّعَ امِ مِ نْ اَھْ لِ الْمَیِّ تِ لاَنَّ ھُ شَ رَعَ فِ ى السُّ رُوْرِ وَھِ يَ
بِدْعَةٌ
“Imam Syafie berkata lagi: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.
Seterusnya di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz. 2. hlm. 146 – 147, Imam Syafie rahimahullah berfatwa lagi:
یُشْبِعُھُمْ وَاِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ.
“Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”.
Fatwa Imam Syafie di atas ini adalah berdasarkan hadis sahih:
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ جَعْفَرَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ حِیْنَ قُتِلَ قَ الَ النَّبِ ي صَ لَّى اللهُ عَلَیْ ھِ وَسَ لَّمَ :
اِصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرِ طَعَامًا فَقَدْ اَتَاھُمْ مَایُشْغِلُھُمْ . (حسنھ الترمزى وصححھ الحاكم)
“Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”. [1]
Menurut fatwa Imam Syafie, adalah haram mengadakan kenduri arwah dengan menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si
Mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram. Telah dinyatakan
juga di dalam kitab ( اعانة الطالبین ) jld. 2. hlm. 146:
وَقَالَ اَیْضًأ : وَیَكْ رَهُ الضِّ یَافَةُ مِ نَ الطَّعَ امِ مِ نْ اَھْ لِ الْمَیِّ تِ لاَنَّ ھُ شَ رَعَ فِ ى السُّ رُوْرِ وَھِ يَ
بِدْعَةٌ
“Imam Syafie berkata lagi: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.
Seterusnya di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz. 2. hlm. 146 – 147, Imam Syafie rahimahullah berfatwa lagi:
وِمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فَعْلُھُ مَا یَفْعَلُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجَمْعِ وَاْلاَرْبِعِیْنَ بَ لْ كَ لُّ
ذَلِكَ حَرَامٌ
1 H/R Asy-Syafie (I/317), Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad I/205. Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.
“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.
Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan beramairamai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang mendakwa bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang haram dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.
Seterusnya terdapat dalam kitab yang sama a ( اعانة الط البین ) juz 2. hlm. 145-146, Mufti
yang bermazhab Syafie al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan rahimahullah menukil fatwa
Imam Syafie yang menghukum bid’ah dan mengharamkan kenduri arwah:
ذَلِكَ حَرَامٌ
1 H/R Asy-Syafie (I/317), Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad I/205. Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.
“Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.
Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan beramairamai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang mendakwa bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang haram dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.
Seterusnya terdapat dalam kitab yang sama a ( اعانة الط البین ) juz 2. hlm. 145-146, Mufti
yang bermazhab Syafie al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan rahimahullah menukil fatwa
Imam Syafie yang menghukum bid’ah dan mengharamkan kenduri arwah:
وَلاَ شَكَّ اَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ ھَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَ رَةِ فِیْ ھِ اِحْیَ اءٌ لِلسُّ نَّة وَاِمَاتَ ةٌ لِلْبِدْعَ ةِ وَفَ تْحٌ
لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الْخَیْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْ وَابِ الشَّ رِّ ، فَ اِنَّ النَّ اسَ یَتَكَلَّفُ وْن تَكَلُّفً ا كَثِیْ رًا
یُؤَدِّيْ اِلَى اَنْ یَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا .
“Dan tidak boleh diragukan lagi bahawa melarang (mencegah) manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan (menghapuskan) bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu pintu keburukan dan (kalau dibiarkan bid’ah berterusan) orang-orang (awam) akan
terdedah (kepada kejahatan) sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”.
Kenduri arwah atau lebih dikenali dewasa ini sebagai majlis tahlilan, selamatan atau yasinan, ia dilakukan juga di perkuburan terutama dihari khaul ( خ ول ). Amalan ini termasuk perbuatan yang amat dibenci, ditegah, diharamkan dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beliau:
لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الْخَیْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْ وَابِ الشَّ رِّ ، فَ اِنَّ النَّ اسَ یَتَكَلَّفُ وْن تَكَلُّفً ا كَثِیْ رًا
یُؤَدِّيْ اِلَى اَنْ یَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا .
“Dan tidak boleh diragukan lagi bahawa melarang (mencegah) manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan (menghapuskan) bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu pintu keburukan dan (kalau dibiarkan bid’ah berterusan) orang-orang (awam) akan
terdedah (kepada kejahatan) sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”.
Kenduri arwah atau lebih dikenali dewasa ini sebagai majlis tahlilan, selamatan atau yasinan, ia dilakukan juga di perkuburan terutama dihari khaul ( خ ول ). Amalan ini termasuk perbuatan yang amat dibenci, ditegah, diharamkan dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beliau:
مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتَمَاعِ عِنْدَ اَھْلِ الْمَیِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ
“Apa yang diamalkan oleh manusia dengan berkumpul dirumah keluarga si mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”.[2]
Di dalam kitab fikh ( حاش یة القلی وبي ) juz. 1 hlm. 353 atau di kitab ( – قلی وبى – عمی رة
حاش یتان ) juz. 1 hlm. 414 dapat dinukil ketegasan Imam ar-Ramli rahimahullah yang mana beliau berkata:
2 Lihat: اعانة الطالبین juz 2 hlm. 145.
Di dalam kitab fikh ( حاش یة القلی وبي ) juz. 1 hlm. 353 atau di kitab ( – قلی وبى – عمی رة
حاش یتان ) juz. 1 hlm. 414 dapat dinukil ketegasan Imam ar-Ramli rahimahullah yang mana beliau berkata:
2 Lihat: اعانة الطالبین juz 2 hlm. 145.
قَالَ شَیْخُنَا الرَّمْلِى : وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فِعْلُھَا كَمَا فِى الرَّوْضَةِ مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ
مِمَّا یُسَمَّى الْكِفَارَةَ وَمِنْ صُنْعِ طَعَامِ للاِجْتَمَاعِ عَلَیْھِ قَبْلَ الْمَوْتِ اَوْبَعِ دَهُ وَمِ ن ال ذَّبْحِ عَلَ ى
الْقُبُوْرِ ، بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ اِنْ كَانَ مِ نْ مَ الٍ مَحْجُ وْرٍ وَلَ وْ مِ نَ التَّركَ ةِ ، اَوْ مِ نْ مَ الِ مَیِّ تٍ
عَلَیْھِ دَیْنٌ وَتَرَتَّبَ عَلَیْھِ ضَرَرٌ اَوْ نَحْوُ ذَلِكَ.
“Telah berkata Syeikh kita ar-Ramli: Antara perbuatan bid’ah yang mungkar jika dikerjakan ialah sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab “Ar-Raudah” iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah” secara menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati sama sebelum atau sesudah kematian, termasuklah (bid’ah yang mungkar) penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama jika sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang (belum dilunas) atau seumpamanya”.
Di dalam kitab ( الفقھ على المذاھب الاربعة ) jld.1 hlm. 539, ada dijelaskan bahawa:
مِمَّا یُسَمَّى الْكِفَارَةَ وَمِنْ صُنْعِ طَعَامِ للاِجْتَمَاعِ عَلَیْھِ قَبْلَ الْمَوْتِ اَوْبَعِ دَهُ وَمِ ن ال ذَّبْحِ عَلَ ى
الْقُبُوْرِ ، بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ اِنْ كَانَ مِ نْ مَ الٍ مَحْجُ وْرٍ وَلَ وْ مِ نَ التَّركَ ةِ ، اَوْ مِ نْ مَ الِ مَیِّ تٍ
عَلَیْھِ دَیْنٌ وَتَرَتَّبَ عَلَیْھِ ضَرَرٌ اَوْ نَحْوُ ذَلِكَ.
“Telah berkata Syeikh kita ar-Ramli: Antara perbuatan bid’ah yang mungkar jika dikerjakan ialah sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab “Ar-Raudah” iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah” secara menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati sama sebelum atau sesudah kematian, termasuklah (bid’ah yang mungkar) penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama jika sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang (belum dilunas) atau seumpamanya”.
Di dalam kitab ( الفقھ على المذاھب الاربعة ) jld.1 hlm. 539, ada dijelaskan bahawa:
وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوْھَ ةِ مَ ا یَفْعَ لُ الآن مِ نْ ذَبْ حِ ال ذَّبَائِحَ عِنْ دَ خُ رُوْجِ الْمَیِّ ت اَوْ عِنْ دَ الْقَبْ رِ
وَاِعْدَادِ الطَّعَامِ مِمَّنْ یَجْتَمِعُ لِتَّعْزِیَةِ .
“Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah (telah dikebumikan).Ada yang melakukan sehingga kekuburan atau menyediakan makanan kepada sesiapa yang datang berkumpul untuk takziyah”.
Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si
Mati. Mungkin persoalan ini dianggap isu yang remeh, perkara furu’, masalah cabang atau
ranting oleh sebahagian masyarakat awam dan dilebih-lebihkan oleh kalangan mubtadi’ مبت دع ) ) “pembuat atau aktivis bid’ah” sehingga amalan ini tidak mahu dipersoalkam oleh
pengamalnya tentang haram dan tegahannya dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama yang bermazhab Syafie.
Pada hakikatnya, amalan mengirim atau menghadiahkan pahala bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahawa masalah akidah dan ibadah tidak boleh
dilakukan secara suka-suka (tanpa ada hujjah atau dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya
masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah memberi amaran
yang tegas kepada mereka yang suka bertaqlid (meniru) perbuatan orang ramai yang tidak
ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:
وَاِعْدَادِ الطَّعَامِ مِمَّنْ یَجْتَمِعُ لِتَّعْزِیَةِ .
“Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah (telah dikebumikan).
Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si
Mati. Mungkin persoalan ini dianggap isu yang remeh, perkara furu’, masalah cabang atau
ranting oleh sebahagian masyarakat awam dan dilebih-lebihkan oleh kalangan mubtadi’ مبت دع ) ) “pembuat atau aktivis bid’ah” sehingga amalan ini tidak mahu dipersoalkam oleh
pengamalnya tentang haram dan tegahannya dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama yang bermazhab Syafie.
Pada hakikatnya, amalan mengirim atau menghadiahkan pahala bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahawa masalah akidah dan ibadah tidak boleh
dilakukan secara suka-suka (tanpa ada hujjah atau dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya
masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah memberi amaran
yang tegas kepada mereka yang suka bertaqlid (meniru) perbuatan orang ramai yang tidak
ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:
وَاِنْ تُطِ ع اَكْثَ رَ مَ ن فِ ى اْلاَرْضِ یُضِ لُّوْكَ عَ ن سَ بِیْلِ اللهِ اِنْ یَّتَّبِعُ وْن اِلاَّ الظَّ نَّ وَاِنْ ھُ مْ اِلاَّ
یَخْرُصُوْنَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am, 6:116)
Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut
ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al- Quran, zikir, doa dan sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:
ثُمَّ جَعَلْنَ اك عَلَ ى شَ رِیْعَةٍ مِ نَ اْلاَمْ رِ فَاتَّبِعْھَ ا وَلاَ تَتَّبِ عْ اَھْ وَاء الَّ ذِیْنَ لاَ یَعْلَمُ وْنَ . اَنَّھُ مْ لَ نْیَخْرُصُوْنَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am, 6:116)
Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut
ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al- Quran, zikir, doa dan sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:
یُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَیْئًا
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan yang wajib ditaati) dalam urusan (agamamu) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (orang jahil). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak diri kamu sedikitpun dari siksaan Allah”. (QS. Al-Jatsiyah, 45:18-19)
Setiap amalan yang dianggap ibadah jika hanya berpandukan kepada andaian mengikut perkiraan akal fikiran, perasaan, keinginan hawa nafsu atau ramainya orang yang melakukan tanpa dirujuk terlebih dahulu kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar yang sahih untuk dinilai sama ada haram atau halal, sunnah atau bid’ah, maka perbuatan tersebutadalah suatu kesalahan (haram dan bid’ah) menurut syara sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat di atas dan difatwakan oleh Imam Syafie rahimahullah. Memandangkan polemik dan persoalan kenduri arwah kerapkali ditimbulkan dan ditanyakan kepada penulis, maka ia perlu ditangani dan diselesaikan secara syarii (menurut hukum dari al-Quran dan as-Sunnah) serta fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah dari kalangan Salaf as-Soleh yang muktabar.
Dalam membincangkan isu ini pula, maka penulis tumpukan kepada kalangan para ulama
dari mazhab Syafie kerana ramai mereka yang bermazhab Syafie menyangka bahawa amalan kenduri arwah, tahlilan, yasinan atau amalan mengirim pahala adalah diajarkan oleh Imam Syafie dan para ulama yang berpegang dengan mazhab Syafie.
Insya-Allah, mudah-mudahan tulisan ini bukan sahaja dapat menjawab pertanyaan bagi mereka yang bertanya, malah akan sampai kepada mereka yang mempersoalkan isu ini, termasuklah mereka yang masih tersalah anggap tentang hukum sebenar kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) menurut Ahli Sunnah wal-Jamaah.
sumber: wahonot.wordpress.com
At-Thoriq Ila Makrifatillah
Apabila kita ingin mencapai sesuatu sasaran, pastinya kita mesti tahu apakah dan bagaimanakah jalan yang akan menyampaikan kita kepada sasaran itu. Begitu juga dengan sasaran untuk mengenal Allah bukan sebarangan cara boleh digunakan kerana jalan yang tidak betul akan membawa kepada pengenalan yang salah. Jalan menuju kepada makrifatullah adalah menerusi ayat-ayat yang terang dan jelas sebagai satu penyataan dari Allah (ayat qauliah). Ayat ini adalah penyataan-penyataan pengenalan yang difirmankan oleh Allah sendiri di dalam al-Quran. Selain itu, ada juga ayat-ayat kauniah yang menjadi bahan berfikir manusia terhadap kejadian alam yang begitu unik ini. Dari dua jalan ini Islam mengajak manusia menggunakan akal dan juga naql untuk menuju makrifatullah . Kedua-dua metod ini akan melahirkan keyakinan, langsung mencetuskan pembenaran (tasdiq) dalam hati kecil manusia yang akhirnya membuahkan keimanan yang mantap terhadap Allah s.w.t.
Selain metod ini, ada juga manusia yang menggunakan metod duga-dugaan dan hawa nafsu untuk mengenal Allah. Paling pasti adalah mereka tidak akan bertemu sasarannya yang sebenar malah dia boleh dipermainkan oleh syaitan seperti yang berlaku kepada penganut hindu, budha dan lain-lain lagi yang menggambarkan tuhan itu mengikut apa yang mereka khayalkan. Metod ini akan berakhir dengan kekufuran.
Hasyiah
1.Jalan menuju pengenalan terhadap Allah s.w.t .
Syarah
Allah s.w.t tidak menampilkan kewujudan Zatnya Yang Maha Hebat di hadapan makhluk-makhluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama makhluk bahkan selagi kita boleh nampak dengan mata kepala kita, maka itu bukanlah tuhan . Allah juga menganjur kepada manusia menerusi Nabi s.a.w supaya berfikirlah pada makhluk-makhluk Allah tetapi jangan sekali anda berfikir tentang zat Allah. Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat al-Quran agar menjadi bahan berfikir tentang kebesaran Allah.
2.Ayat Qauliah
Syarah
Ayat-ayat qauliah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah s.w.t di dalam al-Quran. Ayat-ayat ini boleh menyentuh pelbagai aspek termasuklah jalan-jalan kepada makrifatullah.
Dalil
95:1-5 : Allah mengajak kita berfikir tentang kejadian makhluknya termasuk buah-buahan, bukit-bukau bahkan diri manusia itu sendiri sehingga akhirnya manusia dapat menyimpulkan satu keyakinan bahawa penciptanya adalah Allah.
3.Ayat Kauniah
Syarah
Ayat Kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh kerana alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturan nya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.
Dalil
41:53: Allah menjelaskan bahawa Dia akan tunjukkan ayat-ayat kauniah-Nya diufuq dan juga pada diri manusia sendiri sehingga menjadi terang dan jelas akan kekuasaan Allah.
3:190: Pada kejadian langit dan bumi serta pertukaran siang dan malam juga adalah ayat kauniah kepada kekuasaan Allah bagi sesiapa yang berakal.
4.Metod Islam dengan naqli dan akal
Syarah
Islam menghargai nilai akal yang dimiliki manusia kerana dengan sarana akal ini manusia mampu berfikir dan memilih antara yang benar atau salah. Walau bagaimanapun, dengan akal semata-mata tanpa panduan dari Pencipta akal pencapai pemikiran cukup terbatas. Apa lagi jika dicampurkan dengan anasir hawa nafsu dan zhan. Gabungan antara kemampuan akal dan panduan dari Penciptanya akan menghasilkan pengenalan yang tepat dan mantap terhadap Allah s.w.t. Menjadi satu kesalahan apabila manusia tidak menggunakan akalnya untuk berfikir.
Dalil
10:100-101: Tiadalah seseorang itu beriman melainkan dengan izin Allah. Dia menjadikan siksaan atas orang-orang yang tidak berfikir. KatakanlahPerhatikanlah apa-apa yang dilangit dan dibumi. Tetapi tidak bermanafaat keterangan dan peringatan bagi kaum yang tidak beriman.
65:10 Ancaman Allah dengan siksaan bagi mereka yang berakal tapi tidak berfikir
67:10 Penyesalan yang pasti bagi mereka yang tidak berfikir
6.Tasdiq (membenarkan)
Syarah
Hasil dari berfikir dan meneliti secara terus menurut pedoman-pedoman yang sewajarnya, akan mencetuskan rasa kebenaran, kehebatan dan keagungan Allah . Boleh jadi ia berbetulan dengan firman Allah 53:11( Tiadalah hatinya mendustakan (mengingkari) apa-apa yang dilihatnya). Hati mula membenarkan dan akur kepada kebijaksanaan Tuhan.
Dalil
3:191: Orang-orang yang mengingati Allah setiap ketika akan terungkap pada lisannya ucapan Maha Suci Engkau ya Allah.
50:37: Yang demikian itu menjadi peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau mendengarkan sedang hatinya hadir.
7.Menghasilkan iman
Syarah
Metod pengenalan kepada Allah yang dibawa oleh Islam ini cukup efektif secara berurutan sehingga akhirnya menghasilkan keimanan sejati kepada Allah azzawajalla.
8.Metod selain Islam
Syarah
Pemikiran berkenaan theologi dan ketuhanan banyak juga di bawa oleh pemikir-pemikir dari serata dunia tetapi tidak berlandaskan kepada metod yang sebenar. Kebanyakannya berlandaskan duga-dugaan, sangka-sangkaan dan hawa nafsu. Pastinya metod cacamerba ini tidak akan sampai kepada natijah yang sebenar kerana bayang-bayang khayalan tetap menghantui pemikiran mereka.Ada tuhan angin, tuhan api, tuhan air yang berasingan dengan rupa-rupa yang berbeza seperti yang digambarkan oleh Hindu, Budha dan seumpamanya.
9.Dugaan dan hawa nafsu
Syarah
Dua unsur utama dalam metod mengenal Tuhan yang tidak berlandaskan disiplin yang sebenar adalah sangka-sangkaan dan juga hawa nafsu. Campurtangan dua unsur ini sangat tidak mungkin untuk mencapai natijah yang tepat dan sahih.
Dalil
2:55 : Kaum Nabi Musa mengambil anak lembu sebagai tuhan dan cabar untuk tidak beriman dengan Musa kecuali setelah melihat Allah secara terang, lalu mereka disambar oleh halilintar.
10:36: Kebanyakan mereka tidak mengikut kecuali duga-dugaan semata-mata. Sesungguhnya dugaan itu tidak cukup untuk mendapat kebenaran sedikitpun.
6:115 : Telah tamatlah kalimah Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.
10.Ragu-ragu
Syarah
Apabila jalan yang dilalui tidak jelas dan tidak tepat, maka hasil yang di dapati juga sangat tidak menyakinkan. Mungkin ada hasil yang didapati, tetapi bukan hasil yang sebenarnya. Bagaimanakah kita ingin mengenal Allah tetapi kaedah pengenalan yang kita gunakan tidak menurut neraca dan panduan yang telah ditetapkan oleh Allah. Kadangkala sayyidina umar tersenyum sendirian mengenangkan kebodohannya menyembah patung yang dibuatnya sendiri dari gandum sewaktu jahiliah , apabila terasa lapar dimakannya pujaan itu.
Dalil
22:55: Orang-orang kafir sentiasa dalam keraguan.
24:50: Apakah ada dalam hati mereka penyakit, atau mereka masih ragu-ragu atau takut
11.Berakibat kufur
Semua metod pengenalan yang tidak berasaskan cara yang dianjurkan oleh Islam iaitu menerusi aql dan Naql akan menemui jalan serabut iaitu kekufuran terhadap Allah s.w.t.
Selain metod ini, ada juga manusia yang menggunakan metod duga-dugaan dan hawa nafsu untuk mengenal Allah. Paling pasti adalah mereka tidak akan bertemu sasarannya yang sebenar malah dia boleh dipermainkan oleh syaitan seperti yang berlaku kepada penganut hindu, budha dan lain-lain lagi yang menggambarkan tuhan itu mengikut apa yang mereka khayalkan. Metod ini akan berakhir dengan kekufuran.
Hasyiah
1.Jalan menuju pengenalan terhadap Allah s.w.t .
Syarah
Allah s.w.t tidak menampilkan kewujudan Zatnya Yang Maha Hebat di hadapan makhluk-makhluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama makhluk bahkan selagi kita boleh nampak dengan mata kepala kita, maka itu bukanlah tuhan . Allah juga menganjur kepada manusia menerusi Nabi s.a.w supaya berfikirlah pada makhluk-makhluk Allah tetapi jangan sekali anda berfikir tentang zat Allah. Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat al-Quran agar menjadi bahan berfikir tentang kebesaran Allah.
2.Ayat Qauliah
Syarah
Ayat-ayat qauliah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah s.w.t di dalam al-Quran. Ayat-ayat ini boleh menyentuh pelbagai aspek termasuklah jalan-jalan kepada makrifatullah.
Dalil
95:1-5 : Allah mengajak kita berfikir tentang kejadian makhluknya termasuk buah-buahan, bukit-bukau bahkan diri manusia itu sendiri sehingga akhirnya manusia dapat menyimpulkan satu keyakinan bahawa penciptanya adalah Allah.
3.Ayat Kauniah
Syarah
Ayat Kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh kerana alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturan nya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.
Dalil
41:53: Allah menjelaskan bahawa Dia akan tunjukkan ayat-ayat kauniah-Nya diufuq dan juga pada diri manusia sendiri sehingga menjadi terang dan jelas akan kekuasaan Allah.
3:190: Pada kejadian langit dan bumi serta pertukaran siang dan malam juga adalah ayat kauniah kepada kekuasaan Allah bagi sesiapa yang berakal.
4.Metod Islam dengan naqli dan akal
Syarah
Islam menghargai nilai akal yang dimiliki manusia kerana dengan sarana akal ini manusia mampu berfikir dan memilih antara yang benar atau salah. Walau bagaimanapun, dengan akal semata-mata tanpa panduan dari Pencipta akal pencapai pemikiran cukup terbatas. Apa lagi jika dicampurkan dengan anasir hawa nafsu dan zhan. Gabungan antara kemampuan akal dan panduan dari Penciptanya akan menghasilkan pengenalan yang tepat dan mantap terhadap Allah s.w.t. Menjadi satu kesalahan apabila manusia tidak menggunakan akalnya untuk berfikir.
Dalil
10:100-101: Tiadalah seseorang itu beriman melainkan dengan izin Allah. Dia menjadikan siksaan atas orang-orang yang tidak berfikir. KatakanlahPerhatikanlah apa-apa yang dilangit dan dibumi. Tetapi tidak bermanafaat keterangan dan peringatan bagi kaum yang tidak beriman.
65:10 Ancaman Allah dengan siksaan bagi mereka yang berakal tapi tidak berfikir
67:10 Penyesalan yang pasti bagi mereka yang tidak berfikir
6.Tasdiq (membenarkan)
Syarah
Hasil dari berfikir dan meneliti secara terus menurut pedoman-pedoman yang sewajarnya, akan mencetuskan rasa kebenaran, kehebatan dan keagungan Allah . Boleh jadi ia berbetulan dengan firman Allah 53:11( Tiadalah hatinya mendustakan (mengingkari) apa-apa yang dilihatnya). Hati mula membenarkan dan akur kepada kebijaksanaan Tuhan.
Dalil
3:191: Orang-orang yang mengingati Allah setiap ketika akan terungkap pada lisannya ucapan Maha Suci Engkau ya Allah.
50:37: Yang demikian itu menjadi peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau mendengarkan sedang hatinya hadir.
7.Menghasilkan iman
Syarah
Metod pengenalan kepada Allah yang dibawa oleh Islam ini cukup efektif secara berurutan sehingga akhirnya menghasilkan keimanan sejati kepada Allah azzawajalla.
8.Metod selain Islam
Syarah
Pemikiran berkenaan theologi dan ketuhanan banyak juga di bawa oleh pemikir-pemikir dari serata dunia tetapi tidak berlandaskan kepada metod yang sebenar. Kebanyakannya berlandaskan duga-dugaan, sangka-sangkaan dan hawa nafsu. Pastinya metod cacamerba ini tidak akan sampai kepada natijah yang sebenar kerana bayang-bayang khayalan tetap menghantui pemikiran mereka.
9.Dugaan dan hawa nafsu
Syarah
Dua unsur utama dalam metod mengenal Tuhan yang tidak berlandaskan disiplin yang sebenar adalah sangka-sangkaan dan juga hawa nafsu. Campurtangan dua unsur ini sangat tidak mungkin untuk mencapai natijah yang tepat dan sahih.
Dalil
2:55 : Kaum Nabi Musa mengambil anak lembu sebagai tuhan dan cabar untuk tidak beriman dengan Musa kecuali setelah melihat Allah secara terang, lalu mereka disambar oleh halilintar.
10:36: Kebanyakan mereka tidak mengikut kecuali duga-dugaan semata-mata. Sesungguhnya dugaan itu tidak cukup untuk mendapat kebenaran sedikitpun.
6:115 : Telah tamatlah kalimah Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.
10.Ragu-ragu
Syarah
Apabila jalan yang dilalui tidak jelas dan tidak tepat, maka hasil yang di dapati juga sangat tidak menyakinkan. Mungkin ada hasil yang didapati, tetapi bukan hasil yang sebenarnya. Bagaimanakah kita ingin mengenal Allah tetapi kaedah pengenalan yang kita gunakan tidak menurut neraca dan panduan yang telah ditetapkan oleh Allah. Kadangkala sayyidina umar tersenyum sendirian mengenangkan kebodohannya menyembah patung yang dibuatnya sendiri dari gandum sewaktu jahiliah , apabila terasa lapar dimakannya pujaan itu.
Dalil
22:55: Orang-orang kafir sentiasa dalam keraguan.
24:50: Apakah ada dalam hati mereka penyakit, atau mereka masih ragu-ragu atau takut
11.Berakibat kufur
Semua metod pengenalan yang tidak berasaskan cara yang dianjurkan oleh Islam iaitu menerusi aql dan Naql akan menemui jalan serabut iaitu kekufuran terhadap Allah s.w.t.
Kamis, 23 September 2010
Islam adalah peraturan hidup yang sempurna
slam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan lain-lain. Juga menggariskan metode yang benar dan tepat untuk memecahkan kesulitan dalam bidang-bidang tersebut. Islam berusaha mengatur kehidupan manusia. Unsur pokok dalam hal ini adalah mengatur waktu. Islam merupakan satu-satunya ajaran yang paling kuat untuk dapat membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.
Islam menghalkan harta yang diperoleh dengan cara yang halal yaitu yang tidak ada penindasan, penipuan serta mengutamakan harta yang halal itu hendaknya dimiliki oleh orang-orang shaleh, yang mau memberikan hartanya kepada orang kafir dan untuk perjuangan agar terealisir keadilan sosial di kalangan umat Islam.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “sebaik-baik harta ialah harta yang halal ntuk orang yang shaleh.” (HR: Ahmad).
Ada orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin harta itu dicari dengan cara yang halal saja. Pendapat ini tidak benar dan tidak mempunyai dasar sama sekali. Islam agama perjuangan dan mencari ketenangan hidup. Karenanya ia mewajibkan seorang muslim untuk mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkannya. Ia menghendaki agar manusia hidup tenang dalam naungan Islam dan lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia.
Menghidupkan fikiran Islam yang bebas dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan norma-norma Islam seperti menghilangkan kebekuan berfikir dan membuang sisipan fikiran yang menodai fikiran Islam yang murni dan menghalangi kemajuan umat Islam seperti masalah-masalah bid’ah, takhayul dan hadits palsu.
Islam sebelum menjadi syari’at (peraturan Alloh) adalah sebagai kepercayaan atau keyakinan (bahwa Allah adalah sembahan yang hak). Karena Rasul Alloh memusatkan upayanya di Makkah terhadap hal tauhid, baru setelah hijrah ke Madinah, mendirikan negara dan menerapkan/mempraktekkan syari’at Islam.
Islam menganjurkan untuk mencari ilmu pengetahuan dan kemajuan ilmu yang bermanfaat. Pada abad pertengahan muncul tokoh-tokoh ilmu modern dan ilmu agama dari kalangan Islam seperti Al-Haitami, Al-Bairuni dan lain-lain.Islam menghalkan harta yang diperoleh dengan cara yang halal yaitu yang tidak ada penindasan, penipuan serta mengutamakan harta yang halal itu hendaknya dimiliki oleh orang-orang shaleh, yang mau memberikan hartanya kepada orang kafir dan untuk perjuangan agar terealisir keadilan sosial di kalangan umat Islam.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “sebaik-baik harta ialah harta yang halal ntuk orang yang shaleh.” (HR: Ahmad).
Ada orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin harta itu dicari dengan cara yang halal saja. Pendapat ini tidak benar dan tidak mempunyai dasar sama sekali. Islam agama perjuangan dan mencari ketenangan hidup. Karenanya ia mewajibkan seorang muslim untuk mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkannya. Ia menghendaki agar manusia hidup tenang dalam naungan Islam dan lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia.
Menghidupkan fikiran Islam yang bebas dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan norma-norma Islam seperti menghilangkan kebekuan berfikir dan membuang sisipan fikiran yang menodai fikiran Islam yang murni dan menghalangi kemajuan umat Islam seperti masalah-masalah bid’ah, takhayul dan hadits palsu.
AQIDAH ISLAMIYAH PADA ZAMAN RASUL"
“Dan barangsiapa yg menta’ati Allah dan Rasul
-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-
orang yg dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi
-nabi para shiddiqin orang-orang yg mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-
baiknya”
Pendahuluan Nilai suatu ilmu itu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar dan bermanfaat nilainya semakin penting utk dipelajarinya. Ilmu yg paling penting adl ilmu yg mengenalkan kita kepada Allah SWT Sang Pencipta. Sehingga orang yg tidak kenal Allah SWT disebut kafir meskipun dia Profesor Doktor pada hakekatnya dia bodoh. Adakah yg lbh bodoh daripada orang yg tidak mengenal yg menciptakannya? Allah menciptakan manusia dgn seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya dibanding dgn makhluk / ciptaan lainnya. Kemudian Allah bimbing mereka dgn mengutus para Rasul-Nya . Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 } agar mereka berjalan sesuai dgn kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yg dibawa oleh Sang Rasul. Namun ada yg menerima
disebut mu’min ada pula yg menolaknya disebut kafir serta ada yg ragu
-ragu disebut Munafik yg merupakan bagian dari kekafiran. Begitu pentingnya Aqidah ini sehingga Nabi Muhammad penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah pada bagian ini krn aqidah adl landasan semua tindakan. Dia dalam tubuh manusia seperti kepalanya. Maka apabila suatu ummat sudah rusak bagian yg harus direhabilitisi adl kepalanya lbh dahulu. Disinilah pentingnya aqidah ini. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akherat. Dialah kunci menuju surga. Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yg mengikat. Pada keyakinan manusia adl suatu keyakinan yg mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut
terminologi syara’ yaitu keimanan kepada Allah Malaikat
-malaikat Kitab-kitab Para Rasul Hari Akherat dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman. Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dgn cara-cara perbuatan . Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat puasa zakat dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yg pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua pertama Ikhlas krn Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yg benar. Kedua Mengerjakan ibadahnya sesuai dgn petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yg memenuhi satu syarat saja umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas krn faktor manusia umpamanya maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yg terkandung dalam Al-
Qur’an surah Al
-Kahfi 110 yg artinya
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yg shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Perkembangan Aqidah Pada masa Rasulullah SAW aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri krn masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yg artinya berbunyi
“Kita diberikan keimanan
sebelum Al-
Qur’an”
Nah pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yg mengkafirkan Ali dan Muawiyah krn melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-
Asy’ari
dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yg menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yg menolak takdir dipelopori oleh
Ma’bad Al
-Juhani dan dibantah oleh Ibnu Umar krn terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dgn istilah Tauhid ushuluddin As-Sunnah Al-Fiqhul Akbar Ahlus Sunnah wal Jamaah atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yg berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yg mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya Aqidah Islamiyah yg shahih bisa disebut Tauhid fiqih akbar dan ushuluddin. Sedangkan manhaj dan contohnya adl ahlul hadits ahlul sunnah dan salaf. Bahaya Penyimpangan Pada Aqidah Penyimpangan pada aqidah yg dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yg tidak berkesudahan di akherat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yg jelas dan penuh dgn keraguan dan menjadi pribadi yg sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya Tidak menguasainya pemahaman aqidah yg benar krn kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yg benar. Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yg benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yg keberatan menerima aqidah yg dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-Baqarah 170 yg artinya
“Dan apabila dikatakan kepada mereka “Ikutlah apa yg telah diturunkan Allah” mereka menjawab ” tetapi kami hanya
mengikuti apa yg telah kami dapati dari ne
nek moyang kami.” walaupun
nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak
mendapat petunjuk.”
Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yg dihormati tanpa melalui seleksi yg tepat sesuai dgn argumen Al-
Qur’an dan Sunnah. Sehingga
apabila tokoh panutannya sesat maka ia ikut tersesat. Berlebihan dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yg sudah meninggal dunia sehingga menempatkan mereka setara dgn Tuhan atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu krn menganggap mereka sebagai penengah/arbiter antara dia dgn Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta bernadzar dan berbagai ibadah yg seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh 23 yg artinya
“Dan jangan pula sekali
-kali kamu meninggalkan penyembahan} Wadd
dan jangan pula Suwa’ Yaghuts Ya’uq dan Nasr.”
Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yg materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yg telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka. Pendidikan di dalam rumah tangga banyak yg tidak berdasar ajaran Islam sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan yg artinya
“Setiap anak
terlahirkan berdasarkan fithrahnya maka kedua orang tuanya yg
meyahudikannya menashranikannya atau memajusikannya”
. Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua maka anak akan dipengaruhi oleh acara / program televisi yg menyimpang lingkungannya dan lain sebagainya. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yg cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan apa yg bisa diperoleh dari 2 jam seminggu dalam pelajaran agama itupun dgn informasi yg kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran. Tidak ada jalan lain utk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yg disebut diatas adl mendalami memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yg shahih agar hidup kita yg sekali dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akherat kita Allah SWT berfirman dalam Surah An-
Nisa’ 69 yg artinya
“Dan barangsiapa yg menta’ati Allah dan Rasul
-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-
orang yg dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi
-nabi para shiddiqin orang-orang yg mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-
baiknya.”
Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yg artinya
“Barangsiapa yg
mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah
mereka kerjakan.”
Faedah Mempelajari Aqidah Islamiyah Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yg mutlak maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dgn filsafat yg merupakan karya manusia
tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu’min harus yakin
kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yg akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad antara siang dan malam antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat. Faedah yg akan diperoleh orang yg menguasai Aqidah Islamiyah adl Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah baik bentuknya kekuasaan harta pimpinan maupun lainnya. Membentuk pribadi yg seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka. Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki terhadap jiwa harta keluarga jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah . Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah. Aqidah Islamiyah adl asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya antara pinter dan bodoh antar pejabat dan rakyat jelata antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan kecuali takwanya disisi Allah SWT.
-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-
orang yg dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi
-nabi para shiddiqin orang-orang yg mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-
baiknya”
Pendahuluan Nilai suatu ilmu itu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar dan bermanfaat nilainya semakin penting utk dipelajarinya. Ilmu yg paling penting adl ilmu yg mengenalkan kita kepada Allah SWT Sang Pencipta. Sehingga orang yg tidak kenal Allah SWT disebut kafir meskipun dia Profesor Doktor pada hakekatnya dia bodoh. Adakah yg lbh bodoh daripada orang yg tidak mengenal yg menciptakannya? Allah menciptakan manusia dgn seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya dibanding dgn makhluk / ciptaan lainnya. Kemudian Allah bimbing mereka dgn mengutus para Rasul-Nya . Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 } agar mereka berjalan sesuai dgn kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yg dibawa oleh Sang Rasul. Namun ada yg menerima
disebut mu’min ada pula yg menolaknya disebut kafir serta ada yg ragu
-ragu disebut Munafik yg merupakan bagian dari kekafiran. Begitu pentingnya Aqidah ini sehingga Nabi Muhammad penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah pada bagian ini krn aqidah adl landasan semua tindakan. Dia dalam tubuh manusia seperti kepalanya. Maka apabila suatu ummat sudah rusak bagian yg harus direhabilitisi adl kepalanya lbh dahulu. Disinilah pentingnya aqidah ini. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akherat. Dialah kunci menuju surga. Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yg mengikat. Pada keyakinan manusia adl suatu keyakinan yg mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut
terminologi syara’ yaitu keimanan kepada Allah Malaikat
-malaikat Kitab-kitab Para Rasul Hari Akherat dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman. Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dgn cara-cara perbuatan . Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat puasa zakat dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yg pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua pertama Ikhlas krn Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yg benar. Kedua Mengerjakan ibadahnya sesuai dgn petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yg memenuhi satu syarat saja umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas krn faktor manusia umpamanya maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yg terkandung dalam Al-
Qur’an surah Al
-Kahfi 110 yg artinya
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yg shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Perkembangan Aqidah Pada masa Rasulullah SAW aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri krn masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yg artinya berbunyi
“Kita diberikan keimanan
sebelum Al-
Qur’an”
Nah pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yg mengkafirkan Ali dan Muawiyah krn melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-
Asy’ari
dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yg menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yg menolak takdir dipelopori oleh
Ma’bad Al
-Juhani dan dibantah oleh Ibnu Umar krn terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dgn istilah Tauhid ushuluddin As-Sunnah Al-Fiqhul Akbar Ahlus Sunnah wal Jamaah atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yg berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yg mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya Aqidah Islamiyah yg shahih bisa disebut Tauhid fiqih akbar dan ushuluddin. Sedangkan manhaj dan contohnya adl ahlul hadits ahlul sunnah dan salaf. Bahaya Penyimpangan Pada Aqidah Penyimpangan pada aqidah yg dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yg tidak berkesudahan di akherat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yg jelas dan penuh dgn keraguan dan menjadi pribadi yg sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya Tidak menguasainya pemahaman aqidah yg benar krn kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yg benar. Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yg benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yg keberatan menerima aqidah yg dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-Baqarah 170 yg artinya
“Dan apabila dikatakan kepada mereka “Ikutlah apa yg telah diturunkan Allah” mereka menjawab ” tetapi kami hanya
mengikuti apa yg telah kami dapati dari ne
nek moyang kami.” walaupun
nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak
mendapat petunjuk.”
Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yg dihormati tanpa melalui seleksi yg tepat sesuai dgn argumen Al-
Qur’an dan Sunnah. Sehingga
apabila tokoh panutannya sesat maka ia ikut tersesat. Berlebihan dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yg sudah meninggal dunia sehingga menempatkan mereka setara dgn Tuhan atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu krn menganggap mereka sebagai penengah/arbiter antara dia dgn Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta bernadzar dan berbagai ibadah yg seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat Surah Nuh 23 yg artinya
“Dan jangan pula sekali
-kali kamu meninggalkan penyembahan} Wadd
dan jangan pula Suwa’ Yaghuts Ya’uq dan Nasr.”
Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yg materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yg telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka. Pendidikan di dalam rumah tangga banyak yg tidak berdasar ajaran Islam sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan yg artinya
“Setiap anak
terlahirkan berdasarkan fithrahnya maka kedua orang tuanya yg
meyahudikannya menashranikannya atau memajusikannya”
. Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua maka anak akan dipengaruhi oleh acara / program televisi yg menyimpang lingkungannya dan lain sebagainya. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yg cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan apa yg bisa diperoleh dari 2 jam seminggu dalam pelajaran agama itupun dgn informasi yg kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran. Tidak ada jalan lain utk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yg disebut diatas adl mendalami memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yg shahih agar hidup kita yg sekali dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akherat kita Allah SWT berfirman dalam Surah An-
Nisa’ 69 yg artinya
“Dan barangsiapa yg menta’ati Allah dan Rasul
-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-
orang yg dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi
-nabi para shiddiqin orang-orang yg mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-
baiknya.”
Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yg artinya
“Barangsiapa yg
mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah
mereka kerjakan.”
Faedah Mempelajari Aqidah Islamiyah Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yg mutlak maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dgn filsafat yg merupakan karya manusia
tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu’min harus yakin
kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yg akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad antara siang dan malam antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat. Faedah yg akan diperoleh orang yg menguasai Aqidah Islamiyah adl Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah baik bentuknya kekuasaan harta pimpinan maupun lainnya. Membentuk pribadi yg seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka. Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki terhadap jiwa harta keluarga jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah . Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah. Aqidah Islamiyah adl asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya antara pinter dan bodoh antar pejabat dan rakyat jelata antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan kecuali takwanya disisi Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)